Dalam amanatnya, Shohibul menyampaikan pesan utama "Bumi Seganti Setungguan" sebagai fondasi semangat persatuan, gotong royong, dan kolaborasi yang kuat dalam menjalankan roda pemerintahan. Beliau menegaskan bahwa akuntabilitas kinerja adalah amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, bukan sekadar pemenuhan kewajiban administratif semata. "Evaluasi kinerja yang berkualitas tinggi mutlak diperlukan untuk memastikan setiap program kerja berjalan optimal, objektif, dan berbasis pada data yang akurat di lapangan. Kita harus menanamkan semangat Bumi Seganti Setungguan agar setiap aparatur dapat berkolaborasi dan memiliki rasa tanggung jawab penuh dalam mengawal akuntabilitas ini," ujar Shohibul dalam arahannya.
Lebih lanjut, Shohibul menekankan pentingnya efisiensi melalui penentuan prioritas anggaran yang tepat sasaran demi menjawab tuntutan program yang berorientasi pada manfaat nyata (outcome). Keberhasilan instansi pemerintah saat ini tidak lagi diukur dari penyerapan anggaran secara mandiri, melainkan dari kualitas pelayanan publik hasil kolaborasi yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Oleh karena itu, seluruh aparatur dituntut untuk mengubah pola pikir, menghilangkan ego sektoral, dan menjadikan evaluasi SAKIP berbasis kolaborasi sebagai bagian dari identitas serta budaya kinerja organisasi yang melekat.
Menutup arahannya, Shohibul mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan momentum pelatihan ini sebagai wadah untuk terus belajar dan membangun jaringan kerja yang solid. Kolaborasi antar-aparatur sangat krusial dalam mengawal akuntabilitas demi mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, dan tepercaya. Dengan semangat kebersamaan ini, pelatihan diharapkan mampu melahirkan para evaluator handal yang mengedepankan sinergi untuk membawa perubahan positif bagi instansi masing-masing.



