Print this page

Pengembangan Kompetensi dan Kolaborasi Antarpemangku Kepentingan untuk Peningkatan Kualitas Pelayanan

Rate this item
(1 Vote)

Bukittinggi, Kamis, 20 Agustus 2026 — Balai Besar Pengembangan Kompetensi Aparatur - Pemerintahan Dalam Negeri I (BBPKA-PDN I) Bukittinggi resmi menyelenggarakan pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan 3 dan 4 di kampus BBPKA-PDN I Bukittinggi. Pelatihan ini dibuka secara resmi oleh Plt. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Dalam Negeri, Andi Ony Prihatono.

Dalam laporannya, Kepala BBPKA-PDN I, Sarjayadi, menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan membentuk kepemimpinan kinerja, yang salah satunya diwujudkan melalui terciptanya pejabat administrator yang akuntabel. Upaya mencapai tujuan tersebut dilakukan melalui model pembelajaran blended learning, yaitu pembelajaran bauran antara pembelajaran mandiri, pembelajaran tatap maya, dan pembelajaran tatap muka, dengan total durasi pembelajaran selama 908 jam pelajaran.

Dalam amanatnya, Andi Ony menegaskan bahwa tujuan utama otonomi daerah adalah kesejahteraan rakyat, peningkatan pelayanan publik, dan peningkatan daya saing daerah. Ketercapaian tujuan otonomi daerah tersebut turut menunjang tercapainya visi Indonesia Emas 2045. Ia menekankan bahwa kekayaan alam harus dikelola dengan baik demi kesejahteraan rakyat dan peningkatan kualitas pelayanan, sehingga dibutuhkan kompetensi aparatur yang mumpuni untuk mendukung pengelolaan tersebut.

Andi Ony juga menyampaikan bahwa peningkatan kompetensi aparatur tidak boleh berhenti pada aspek administratif semata, melainkan harus berorientasi pada peningkatan kinerja organisasi. Oleh karena itu, tujuan utama peserta pelatihan bukan sekadar lulus, melainkan turut mendukung peningkatan kinerja organisasi dalam pelayanan. Melalui pelatihan ini, diharapkan pula terjalin komunikasi dan kolaborasi antarpeserta, mengingat tantangan terbesar pemerintahan adalah menyatukan kepentingan, kewenangan, sumber daya, dan kebijakan demi pelayanan kepada masyarakat. Terbinanya komunikasi dan kolaborasi selama dan pascapelatihan diyakini akan memperbesar peluang untuk mengatasi tantangan penyatuan tersebut.